Wujud Syukur

Dalam suatu ceramah agama yang dibawakan oleh pamanku sendiri, di acara syukuran di kediaman kami
ada suatu pernyataan beliau yang masih bisa kuingat sampai sekarang, kurang lebih demikian ungkapannya "Bersyukur itu tidak hanya suatu ungkapan yang dikeluarkan dari bibir saja, 'Terima kasih Tuhan !'  'Terimakasih atas pemberianmu Ya Allah !', 'Aku Bersyukur Ya Allah !',  dan lain sebagainya, namun lebih dari itu yaitu lebih kepada tindakan nyata sebagai abdi kita kepada sang Tuhan"

Sejenak memang saat itu tidak begitu kuhiraukan perkataan beliau, namun pada akhirnya aku bisa merenung dan menjabarkan jauh lebih dalam akan makna dari apa yang telah disampaikan oleh pamanku itu.

Sering kali aku menyombongkan diri kepada diriku sendiri, bahkan kepada orang disekitarku bahwa aku sudah sangat bersyukur kepada Tuhan. Dengan mudahnya dalam setiap doa yang kuucapkan selalu saja aku menyatakan kepada pemilik semesta alam ini bahwa betapa aku berterima kasih/bersyukur pada-Nya akan nikmat yang telah diberikan kepadaku dan keluarga.
Namun pada kenyataannya adalah tiap kali aku bertemu dengan masalah sering kali aku mengeluh, tiap kali aku betemu dengan kenyataan yang tidak kuinginkan sering kali aku merasa tidak adil, ketika bertemu dengan seseorang yang menjengkelkan hatiku selalu saja aku tidak sabar.
Apakah ini wujud syukur kepada Sang Pemilik kehidupanku yang kuucapkan selama ini !?

Berkaca dari apa yang telah disampaikan oleh pamanku dalam ceramah agamanya tersebut,  membuat aku merenung lagi lebih dalam. Betapa aku sadar ternyata fakta sikap yang aku perlihatkan sangat bertolak belakang dengan apa yang telah aku keluarkan dari bibirku sendiri tentang arti kata syukur itu sendiri.

Tidak seharusnya aku mengeluh akan suatu keadaan yang tidak diinginkan, karena sesungguhnya ada orang lain yang jauh lebih menyedihkan dari keadaanku. Tidak seharusnya aku merasa tidak adil ketika aku bertemu masalah yang rumit, karena ada orang lain yang jauh lebih rumit permasalahan yang aku hadapi. Tidak sepantasnya aku berbuat kasar pada seseorang dengan kesalahannya, padahal ada orang lain yang jauh lebih besar kesalahannya.

Maka orang-orang yang benar-benar memaknai arti kata syukur  sesungguhnya adalah orang-orang yang sabar,  orang yang selalu mampu tersenyum dalam setiap keadaan yang ia temui.  Dan jika dengan segala permasalahan yang diterima seseorang mampu bersyukur, maka apalagi bila seseorang menerima nikmat lebih dari yang lain, tentu saja nikmat tersebut akan jika bisa akan ia bagi-bagikan kepada yang lain.


Palembang, 1 Juni 2010

by roel

Terimakasih untuk kunjungannya...
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment