Ambisius Merah Putih

Menjadi tua itu adalah suatu keniscayaan jika tidak mati muda. Tapi tua menjadi orang yang berguna atau menjadi pembuat onar itu adalah pilihan. Banyak orang yang sudah mendekati usia kematian masih juga tak punya kesadaran diri merubah ahlak menjadi orang yang benar, tapi tidak sedikit pula di usia tua masih atau mulai berusaha menjadi orang yang berguna.
Pilpres di negeri ini rampung sudah, para menteripun sudah dilantik dan siap bekerja. Namun rentetan berbagai hal untuk sampai kesini masih meninggalkan peristiwa-peristiwa yang patut dikenang untuk dijadikan pelajaran buat orang yang ingin mengambil hikmah. Betapa perhelatan itu banyak menguras energi emosianal hingga mampu menunjukkan sifat asli dari para pendukung kedua calon pemimpin itu. Orang yang dulu dianggap pendiam dalam keseharian di dunia nyata, namun di media sosial di dunia maya ia mampu mengeluarkan pernyataan-pernyataan tak pantas. Bahkan beberapa diantaranya yang biasanya tekesan sangat intelek atau dianggap sebagai pemuka agama berubah menjadi anak kecil yang tak berhenti berteriak mengeluarkan umpatan cacian makian.
Dari sejumlah peristiwa, ada catatan penulis yang ingin diungkap disini yaitu seseorang yang menjadi petarung yang selalu berteriak NKRI, teriakannya tidak berbeda dengan rivalnya yang juga selalu berteriak hal yang sama. Awalnya penulis meragukan teriakannya karena dimata penulis ia lebih terkesan sebagai orang yang begitu ambisius.
Namun pada kenyataannya disetiap forum soal jawab yang seharusnya ia menyerang habis-habisan nyatanya ia malah menyetujui apa yang disampaikan oleh rivalnya, hingga forum itu lebih memperlihatkan dukungan apa yang dikerjakan oleh rivalnya dan justru menyerang apa yang telah dikerjakan oleh sebelum rivalnya.
Suatu peristiwa yang pada akhirnya membuat penulis mulai merubah pikiran, bahwa apa yang menjadi ambisinya adalah sepertinya murni untuk NKRI, adalah ketika ia ditemui oleh beberapa tokoh kondang yang diakuin oleh sebagian masyarakat sebagai ulama, dan saat ia tanpa sengaja meneteskan air mata untuk dukungan perjuangannya yang positif.
.
.
Sampai saat itu tiba ternyata fakta berkata lain terhadap kehendaknya, takdir Tuhan menghendaki ia harus tidak memenangkan pertarungan itu lagi. Dan berbagai upaya untuk melawan takdirpun dilakukan, walaupun dikelilingi oleh orang-orang membantunya, orang-orang yang terus mendukungnya dalam tanda kutip, namun upaya itu sia-sia, tetap saja gagal.
.
.
.
Menjadi tua dan berguna sepertinya tetap menjadi pilihannya, apalagi dihari tua tanpa ada orang yang selalu setia menemani sehingga tak ada penyeimbang, tak ada pengingat, tak ada penyemangat. Menjadi sibuk untuk mengurus hal yang beguna yang akan selalu dikelilingi oleh orang-orang yang tidak lagi memanfaatkan dirinya untuk kekuasaan, sepertinya lebih menjadi pilihan, hingga ia tak lagi memandang jabatan yang diemban seperti yang diharapkan dahulu. Semangat NKRI, sepertinya telah menjadi motivasi dirinya untuk tetap berkarya menjadi orang yang berguna, dan kini wajahnya terlihat begitu sumringah. Mudah-mudahan penulis tidak salah…
.
Tak perlu segan dan tak perlu merasa kehilangan harga diri, karena banyak orang lain yang jauh lebih hebat, lebih terkenal, lebih jendral, lebih pintar, lebih cerdas, lebih kaya, lebih keren dan lebih agamis namun mau tunduk dan bekerja dibawah kepepimpinan mantan seorang tukang kayu, karena memang menjadi orang berguna dapat dilakukan dimana saja, kapanpun dan dalam peran apapun karena Tuhan tidak pernah mempermasalahkan jabatan seseroang, yang DIA lihat adalah kesungguhan dan keikhlasan hambanya.
Wallahua’lam bishawab

Palembang, 26 Oktober 2019

by roel

Terimakasih untuk kunjungannya...
    Blogger Comment
    Facebook Comment