Ungkapan Rasa Ketiada-berdayaan Dengan Gaya Baru

Ada satu keheranan dari seorang pengguna situs fesbuk, yang mempertanyakan mengapa dalam ketakutan di kejadian gempa kemarin, masih saja orang bisa mengeluarkan statusnya di fesbuk ? Ketakutan apa yang ada pada orang tersebut….?

Dahulu mungkin orang tidak pernah membayangkan bahwa alat komunikasi handphone akan menjadi barang yang mudah dijumpai setiap tempat bahkan sampai ke pelosok desa sekalipun. Hampir semua orang dari berbagai kalangan memilki handpone, bahkan sebagian kalangan tertentu menganggap bahwa handphone sudah seperti halnya kebutuhan primer layaknya pakaian, karena didalam aktitas kerjanya sehari-hari ia menggunakan handphone, maka tak lengkap dan tak nyaman rasanya bila keluar dari rumah tanpa membawa handphone.

Hal diatas juga dapat dijelaskan seperti halnya alat transportasi seperti mobil atau seperda motor yang dulu mungkin dianggap sebagai barang yang istimewa, tapi sekarang berubah menjadi sesuatu yang sangat dibutuhan. Tak ada lagi orang-orang yang mau pergi ke suatu tempat yang jaraknya ratusan kilometer ditempuh dengan berjalan kaki.

Timbul suatu pertanyaan…., Betulkah gaya hidup manusia yang berubah sehingga membutuhkan sesuatu yang dulunya dianggap barang yang baru yang dianggap tak perlu berubah menjadi sesuatu yang amat penting ? ataukah sebaliknya ! sesuatu yang baru (seperti halnya alat komunikasi) membuat gaya hidup manusia berubah.

Masing-masing kita akan memiliki pendapat dan argumennya masing-masing didalam menyikapi pertanyaan diatas. Ada yang menjawab bahwa sesuatu yang barulah yang menyebabkan gaya hidup manusia berubah, tapi ada pula yang membantah bahwa gaya hidup manusia yang berubah yang menyebabkan sesuatu yang baru yang awalanya tidak begitu diperlukan berubah menjadi sesuatu yang amat diperlukan. Atau juga menganggap bahwa semuanya memang merupakan satu kesatuan yang berkesinambungan.

Apapun itu jawabnya barangkali bukanlah masalah. Namun yang jelas adalah satu hal yang tidak akan pernah berubah dari dulu sampai sekarang, dari zamannya nabi Adam sampai detik ini, bahwa manusia akan selalu hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Kejadian gempa kemarin adalah salah satu bukti yang amat tak terbantahkan. Betapa tak berdayanya penduduk bumi ketika bumi digoyang sedemikian rupa, jeritan histeris, tangisan keras serta merta keluar dari mulut manusia seraya keluar dari rumah/gedung yang didiami. Dan ketakutan dan kecemasan masih saja terus berlanjut khawatir akan ada gempa susulan.

Tinggal lagi bagaimana reaksi masing-masing manusia akan menyikapi ketakutan ini, sebagian dari mereka yang terkena goncangan merasa betapa sangat tak berdayanya manusia, maka ingatlah mereka pada sang Pemilik Kehidpan Semesta Alam ini. Tak henti-hentinya mereka berdoa dan berharap didalam hati agar Tuhan mau memberhentikan kejadian yang menakutkan….

Dan satu hal lagi, sudah menjadi sifat manusia didalam rasa ketakutan, kecemasan, kekhawatiran selain ia berdoa dan berharap dengan Tuhan-nya terkadang juga manusia akan megeluarkan kegelisahannya kepada orang lain. Ia akan bercerita atau curhat kepada keluarga, kerabat dan teman tentang kekhawatirannya.

Menjawab keheranan dari seseorang pengguna fesbuk diatas, tampaknya fesbuk atau situs semacam fesbuk telah merubah gaya hidup manusia, atau gaya hidup manusia yang memanfaatkan teknologi melalui situs fesbuk, bahwa mereka dapat curhat, bercerita, mengungkapkan ketakukan kecemasan dan kekhawatiran ke teman, kerabat dan keluarganya melalui fesbuk.
Tak ada yang salah dengan semua itu, apalagi bila curhat itu akan semakin mengingatikan kita kepada sang pemilik kehidupan alam semesta ini terutama kepada teman-teman dibelahan bumi yang lain yang tidak terkena dampaknya.

Dan satu hal lagi, tentu saja saat terjadi gempa atau sedang dalam suasana ketakutan seseorang tidak mungkin menuliskan rasa takutnya di fesbuk, pastinya gempa sudah berlalu dan hati sudah mulai sedikit tenang, barulah mereka curhat melalui internet.


Salam…

Palembang, 3 September 2009

by roel

Terimakasih untuk kunjungannya...
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment